kaidah sosial

 

Kita sudah mengetahui, bahwa kaidah itu merupakan patokan atau pedoman kehidupan . namun dalam kehidupan itu ternyata terhadap beberapa aspek, yang secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu aspek kehidupan pribadi dan aspek kehidupan antar pribadi (personal dan transpersonal atau interpersonal). Dan  setiap aspek kehidupan itu mempunyai kaidah yang dalam masing-masing golongan itu dibedakan atas dua macam tata kaidah.

2.2              KAIDAH SOSIAL

Kaidah Sosial atau Norma Sosial adalah ketentuan-ketentuan tentang baik buruk perilaku manusia di tengah pergaulan hidupnya dan peraturan hidup yang mengatur tingkah laku manusia dalam bermasyarakat, dengan menentukan perangkat-perangkat atau penggal-penggal aturang yang bersifat perintah dan anjuran serta larangan-larangan. Ketentuan larangan untuk perbuatan-perbuatan yang apabila di lakukan atau tidak dilakukan dapat membahayakan kehidupan bersama, sebaliknya perintah-perintah adalah ditujukan agar dilakukan perbuatan-perbuatan yang dapat memberi kebaikan bagi kehidupan bersama. Apabila perilaku masyarakat menuruti norma atau kaidah maka perbuatannya dipandang normal atau wajar, dan apabila sebaliknya tidak normal atau menyimpang sehingga akan menerima reaksi masyarakat. Dapatlah dikatakan bahwa apa yang diartikan dengan kaidah adalah patokan atau ukuran atau pedoman untuk berperilaku atau bersikap tindak dalam hidup. Apabila ditinjau bentuk hakikatnya, maka kaidah merupakan perumusan suatu pandangan mengenai perikelakuan.  Menurut Kuntoro Basuki Kaidah Sosial adalah pedoman tingkah laku manusia dalam hidup bermasyarakat, yang fungsinya melindungi kepentingan manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial dengan jalan menertibkan. Kaidah Sosial masih berhubungan dengan Konformitas atau penyesuaian, dimana seseorang harus menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan agar seseorang bisa diterima di lingkungannya.

Adapaun jenis-jenis Kaidah Sosial terbagi tiga macam, yaitu Kaidah Kesusilaan, kesopanan dan Hukum.

  1. Kaidah  Kesusilaan

Kaidah kesusilaan adalah peraturan hidup yang bersumber pada rasa kesusilaan dalam masyarakat.jangan iri hati, jangan tidak senonoh, jangan membenci apalagi memfitnah dan sebagainya. Kaidah-kaidah ini ada yang bersifat aktual atau ada pula yang fundamental yang bersifat aktual misalnya, jangan iri hati, Sedangkan yang fundamental yang merupakan dasar  dari kaidah-kaidah tersebut adalah pandangan tentang peri-kelakuan atau sikap tindak bahwa seseorang harus bersih hatinya baik akhlaknya, berjiwa luhur sebagaoi pancaran untuk dapat bersusila dalam pergaulan hidup.

  1. Kaidah Kesopanan

Kaidah kesopanan adalah peraturan hidup yang bersumber pada ketaatan, kebiasaan atau kesopanan dalam masyarakat. Seseorang yang melanggar kaidah kesopanan akan mendapatkan sanksi sebagai teguran yang bermaksud agar bisa menjaga perilaku sopan santun yang telah ditetapkan. Kaidah kesopanan yang fundamental merumuskan inti kehidupan yang baik, yaitu orang harus memelihara keharmonisan hidup bersama. Mengenai kaidah-kaidah sopan santun yang aktual dan khas tu berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh beberapa kaidah yang berlaku pada masyarakat Indonesia di antaranya; orang yang lebih muda memberi salam dan hormat kepada yang lebih tua apabila berpapasan atau bersua, demikian pula seorang murid terhadap gurunya. Apabila memasuki rumah menyampaikan kata permisi seperti punten (sunda), kulo nuwun (Jawa), dan lain-lain.

  1. Kaidah Hukum

Kaidah Hukum adalah peraturan hidup yang dibuat secara oleh pihak yang mempunyai kewenangan atau Penguasa Negara untuk melindungi dan memenuhi segala kepentingan hidup manusia dalam kehidupan masyarakat. Menurut Van Kan sifat yang khas dari peraturan hukum, ialah sifat memaksa menghendaki tinjauan yang lebih mendalam. Sebab memaksa bukanlah berarti senantiasa dapat dipaksankan. Contohnya, apabila hukum selalu dapat dipaksakan tidak mungkin ada orang dipenjara karena mencuri, membunuh, dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa sanksi hukum tidak selalu dapat dipaksakan.

Selain yang disebutkan di atas masih ada satu Kaidah yaitu Kaidah Agama. Kaidah Agama adalah peraturan hidup yang diyakini oleh pemeluknya sebagai perintah dari Tuhan (wahyu), atau dapat dikatakan bahwa Kaidah Agama berpangkal pada kepercayaan kepada Tuhan.

2.3              SIFAT KAIDAH SOSIAL

Adapun sifat dari kaidah sosial yaitu :

  1. Deskriptif (Menggambarkan)
  2. Preskriftif (menganjurkan)
  3. Normatif (mengharuskan)
  4. Imperatfif (memaksa)

2.4              PERBEDAAN KAIDAH HUKUM DENGAN KAIDAH AGAMA DAN KAIDAH KESUSILAAN

Kita mulai mengadakan pembedaan antara kaidah hukum dengan kaidah agama dan kaidah kesusilaan.

Dilihat dari segi tujuan, kaidah hukum bertujuan menciptakan tata tertib masyarakat dan melindungi manusia beserta kepentingannya, sedangkan kaidah agama dan kesusilaan bertujuan memperbaiki pribadi manusia agar menjadi manusia ideal (insan kamil). Dilihat dari segi sasaran, kaidah hukum mengatur tingkah laku manusia agar sesuai dengan aturan, sedangkan kaidah agama dan kesusilaan mengatur sikap batin manusia sebagai pribadi agar menjadi manusia yang berkpribadian yang baik. Dilihat dari sumber-sumber sanksi, kaidah hukum dan kaidah agama berasal dari luar diri manusia (heteronom), sedangkan sanksi kaidah kesusilaan berasal dari suara hati masing-masing pelanggar (otonom). Ditinjau dari segi isinya, kaidah hukum memberikan hak dan kewajiban, sedangkan kaidah agama dan kaidah kesusilaan hanya memberikan kewajiban saja.

SKETSA

SEGI AGAMA KESUSILAAN KESOPANAN HUKUM
TUJUAN Umat manusia; manusia sempurna; mencegah manusia menjadi jahat. Pribadi yang konkrit; tertib masyarakat; keharmonisan bersama; menghindari jatuhnya korban,
SASARAN Aturan yang ditunjukan kepada sikap batin. Aturan yang ditunjukan kepada perbuatan lahiriah (konkrit).
ASAL USUL tuhan diri sendiri kekuasaan luar yang memaksa.
SANKSI tuhan diri sendiri kekuasaan luar yang memaksa resmi
ISI memberi kewajiban Memberi hak dan kewajiban

 

 

2.5              TUJUAN HUKUM

Adapun tujuan hukum pada umum atau tujuan hukum secara universal adalah: perdamaian, keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Ke empat tujuan hukum pada umumnya atau universal ini sebagaimana merupakan satu urutan dimana tujuan yang pertama  merupakan prasyarat atau landasan bagi tujuan berikutnya. Tujuan hukum yang kemudian tidak akan dapat dicapai sebelum tujuan sebelumnya dapat diwujudkan. Jadi, pertama-tama hukum itu harus mewujudkan tujuannya yang pertama yaitu menciptakan perdamaian didalam masyarakat. Hal demikian sudah merupakan pemikiran bangsa-bangsa germania sekitar 500 tahun sebelum masehi sebagaimana yang dikatakan oleh apeldoorn. Masyarakat yang damai dapat disebut juga masyarakat dalam keaadan tertib hukum sebagai kriteria bertingkah laku.

Menurut Gustav Radbruch, ada tiga tujuan hukum (yaitu kemanfaatan, kepastian dan keadilan) dalam melaksanakan ketiga tujuan hukum ini dengan menggunakan “asas prioritas”. Akan tetapi keadilan harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada kepastian dan kemanfaatan. Dari ketiga tujuan hukum tersebut tidak lah dapat dilaksanakan secara bersama karena sebagaimana diketahui, di dalam kenyataanya sering sekali antara kepastian hukum terjadi benturan dengan kemanfaatan, atau antara keadilan dengan kepastian hukum, antara keadilan terjadi benturan dengan kemanfaatan.

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: