Analisis Sistem Pemerintahan dan Gaya Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Manusia sebagai mahluk sosial, tidak dapat hidup sendiri, membutuhkan tangan orang lain untuk saling membantu, akan tetapi tidak mudah hidup dalam kebersamaan, kita harus saling menghormati dan saling menghargai, tidak melanggar hak orang lain dan melupakan kewajiban sendiri. Untuk dapat hidup harmonis dan damai dalam sebuah lingkungan maka manusia harus dapat mengontrol emosi dan mengatur kesepakatan bersama dalam hidup sehari hari, manusia sebagai mahluk yang sempurna diantara mahluk lainnya yang dianugerahi akal dan fikiran agar dapat memilah dan memilih mana yang baik dan yang buruk seharusnya dapat mengolah lingkungan dengan baik, baik dalam lingkungan alam maupun lingkungan sosial, untuk mencapai keharmonisan yang di idam-idamkan, maka manusia atau sekelompok orang tersebut membutuhkan seorang pemimpin dalam kebesamaan hidup itu agar ada yang mengatur dan mengarahakan  serta antara hak dan kewajiban tidak terjadi tumpang tindih dan terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai.
Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak kerberagman suku, budaya, bahasa dan agama tidaklah mudah hidup dalam satu negara yang banyak sekali perbedaan. Akan tetapi indonesia disatukn oleh cita-cita yang sama yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan harus berpegangan teguh kepada ideologi kebangsaan indonesia yaitu Pancasila sebagai pedoman dalam berbanga, bernegara, agar jiwa solidaritas dapat tumbuh  sejak dini. Untuk mengatur jalannya negara yang harmonis, damai dan sejahtera maka bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat menciptakan keharmonisan dan kedamaian dalam kebersamaan suatu negara, menyatukan rakyatnya serta menyejahterakan rakyatnya dan yang paling terpenting tidak bersifat primordialisme.
Indonesia adalah negara yang menganut sistem presidensil yang artinya bahwa peranan presiden lebih dominan dibandingkan dengan lembaga-lembaga lainnya. Presiden dianggap sebagai pemimpin negara bahkan disebut-sebut sebagai orang nomor satu di Indonesia. Presiden dipilih untuk memimpin jalannya aktifitas kenegaraan. Dan diharpkan dapat membawa kesejahteraan, keharmonisan, kedamaian dan persatuan yang kokoh walaupun dipisahkan lautan, berbeda pulau, bahasa, suku, budaya dan agama. Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan,” Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan”. Sedangkan menurut Robert Tanembaum, ”Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan atau organisasi”. Dari teori diatas bahwa dalam aktifitasnya presiden berhak membentuk suatu badan atau lembaga untuk membantu kinerjanya seperti mentri keuangan, mentri pertanian, mentri kesehatan, mentri kesejahteraan dan lain sebagainya yang disebut sebagai organ pemerintahan untuk membantu mengefektif dan mengefisienkan kinerja presiden selaku lembaga eksekutif.
  1. Identifikasi masalah
Dari latar belakang yang penuis paparkan sebelumnya, maka timbul beberapa pertanyaan persoalan atau masalah dalam bentuk pernyataan, yaitu diantaranya adalah:
1.      Bagaimana hasil kinerja Susilo Bambang Yudhoyono dalam delapan tahun memimpin negara kesatuan republik indonsia?
2.      Bagaimana gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dalam delapan tahun terakhir ini?
  1. Tujuan penulisan
Tujuan dari dilakukannya penulisan ini adalah untuk mengevaluasi hasil kinerja dan gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono selama menjabat sebagai presiden negara kesatuan republik indonesia dan menjadikan bahan pembelajaran bagi siapa saja yang membaca untuk dijadikan informasi serta untuk melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa serta agar mahasiswa lebih memahami pokok bahasan dalam teori kepemimpinan  dalam prakteknya atau realitas dalam negri ini dan lebih mengenali gaya keepmimpinan pemiminnya itu sendiri.
  1. Manfaat penulisan
Manfaat dari dilakukannya penulisan ini terdiri dari dua manfaat yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Manfaat praktis adalah manfaat jangka pendek yang dapat segera diimplementasikan atau ditindak lanjuti, dalam manfaat praktis mengacu kepada kebutuhan suatu unit organisasi sedangkan manfaat  teoritis adalah manfaat jangka panjang yang dapat digunakan dalam pengembangan disiplin ilmu terkait tentang kepemimpinan, yang termasuk manfaat teoritis adalah dalam rangka sebagai rujukan untuk penelitian berikutnya.
  1. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari penulisan yang berjudul Analisis Sistem Pemerintahan dan Gaya Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yaitu akan menjadi sebuah evalusai  sehingga menjadi feedback atau umpan balik agar dimasa yang akan datang diharapkan dapat menjadi lebih baik lagi dibandingan kepemimpinan yang sekarang. Dan juga dapat dijadikan tolok ukur masyarakat dalam memilih pemimin karena sudah mengetahui kepemimpinan yang sekarang ini untuk memilih pemimpin yang selanjutnya.
 
b.      Manfaat teoritis
Dan dari segi manfaat teorits penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam melakukan penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
A.    Sejarah Singkat Sistem Pemerintahan di Indonesia
 
Pada waktu awal kemerdekaan indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial. Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 maka Presiden memiliki kekuasaan tertinggi dan dibantu oleh menteri-menteri sebagai pembantu presiden yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sistem Presidensial pernah berganti menjadi Sistem parlementer yang dipimpin oleh kepala pemerintahan Perdana Menteri. Selain itu Indonesia pada awal kemerdekaan juga masih belajar tentang bagaimana menjalankan pemerintahan. Dengan sistem parlementer ini maka di Indonesia saat itu memiliki DPR yang anggotanya dipilih oleh rakyat, maksud dari sistem ini adalah untuk membatasi kewenangan presiden.
Menurut  Philipus M. Hadjon, “ wewenang (bevoegdheid) dideskripsikan sebagai kekuasaan hukum (rechtsmacht). Jadi dalam konsep hukum publik, wewenang berkaitan dengan kekuasaan[1]
 Jika pada sistem presidensial kabinet bertanggungjawab kepada presiden maka sistem parlementer, Presiden bertanggungjawab kepada parlemen/DPR. Sebenarnya sistem parlementer ini adalah sebuah penyimpangan ketentuan UUD 1945 yang menyebutkan “pemerintahan harus dijalankan menurut sistem kabinet presidensial, dimana menteri sebagai pembantu presiden”. Karena sering mengalami kegagalan kabinet, dan banyak menimbulkan gerakan-gerakan pemberontakan yang menyebabkan stabilitas negara terganggu, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959 yang isinya antara lain mengembalikan konstitusi ke UUD 1945 dan bentuk pemerintahan kembali ke sistem presidensial.
 
A.                                                             Teori kewenangan
Indonesia sebagai Negara demokrasi yang menganut sistem pemerintahan presidensial dalam pemerintahannya berarti memberi kekuasaan atau kewenangan kepada presiden untuk bertindak lebih dominan dibadingkan lembaga-lembaga yang lainnya seperti lembaga legislatif maupun lembaga yudikatif. Sistem presidensil  dalam Negara demokrasi berarti kekuasaan di tangan rakyat dengan diwakili oleh presiden sebagai pemimpin dalam menentukan sesuatu yang sudah disepakati bersama. Dalam hal ini berarti presiden diberi wewenang untuk mengatur jalannya akitifitas kenegaraan, wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan perintah tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut F.P.C.L. Tonner dalam Ridwan HR berpendapat bahwa “kewenangan pemerintah dalam kaitan ini dianggap sebagai kemampuan untuk melaksanakan hukum positif, dan dengan begitu dapat diciptakan hubungan hukum antara pemerintahan dengan warga negara[2]”.
Sedangkan menrut  Ferrazi  mendefinisikan kewenangan sebagai hak untuk menjalankan satu atau lebih fungsi manajemen, yang meliputi pengaturan (regulasi dan standarisasi), pengurusan (administrasi) dan pengawasan (supervisi) atau suatu urusan tertentu[3]. Sementara itu dalam pengertian lain disebutkan bahwa wewenang  sangat identik dengan kekuasaan  seperti yang dikemukakan louis a Aallen dalam bukunnya management and organization yaitu wewenang adalah jumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang di delegasikan pada suatu jabatan[4].
Selanjutnya jones (2010:117) mengemukakan bahwa wewenang adalah kekuatan menahan orang –orang untuk bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan guna membuat keputusan mengenai penggunan sumberdaya organisasi.  Senada dengan pengertian lain beberapa ahli di atas, harold koontz dan Cyril donnell dalam bukunya “the principles of management” memberikan definisi dari kewenangan sebagai “kekuasaan yang sah yang memberikan hak untuk memerintah orang lain untuk bertindak atau tidak bertindak dalam suatu acara dalam rangkaian pencapaian organisasi”. Dan membagi bentuk kewenagnan dalam empat bentuk, yaitu yang pertama legal authority yaitu kewenangan yang sah, yang dilegalkan dan memiliki landasan hukum, yang kedua technical authority yaitu seseorang yang mempunyai atau memiliki keahlian dalam bidang tersebut seperti dokter memiliki wewenang memeriksa pasiennya, yang ketiga ultimate authority yaitu kewenangan tertinggi misalnya dalam suatu perusahaan yang memilki kewenangan tertinggi adalah pemilik saham dan yang terakhir adalah operation authority yaitu pelimahan kewenangan dari pimpinan organisasi kepada bahawan untuk melakukan sesuatu seperti daerah otonom[5]
 
B.                                                              Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam upaya mencapai tujuan dalam suatu situasi tertentu. Ada beberapa ahli yang mendeifnisikan kepemimpinan diantaranya menurut Dr. Thomas gordhon  “ Group Centered Leadership” bahwa:
“Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi[6]
Sedangkan menurut Menurut  Terry Hoyt “kepemiminan  yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.[7]
Pendapat para ahlilainnya menurut james (dalam sadili, 2006:287) mengemukakan berkaitan dengan teori kepemimpinan tersebut yaitu kepemimpinan adalah kemamuan meyakinkan dan menggerakan orang lain agar mau bekerja sama dibawah kepemiminannya sebagai satu tim untuk mencapi tujuan tertentu” lanjut james mengenai teori kepemimpinan, menjelaskan bahwa:
 
“gaya kepemimpinan seorang pemimpin adalah unik dan tidak dapat diwariskan secara  otomatis, setiap pemimpin memiliki karakteistik terentu yang timbul dalam situasi yang berbeda.untuk dapat megusahakan orag lain agar dapat bekerasama dengan dirinya, maka pemimpin dapat mengguunakan kewibawaannya tertentu atau kewenangan formal tertentu . Kekuasaan merupakan suatu bagian dari sendi kehidupan organisasi”[8]
 
              Dari beberapa teori kepemimpinan diatas serta beberapa kutipan mengenai teori kepemimpinan dapat kita lihat bahwa fungsi utama seorang pemimpin adalah memengaruhi orang lain agar mau mengikuti perintahnya atau bergabung bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dari sinilah kita data melihat bagaimana hakikat pemimpin itu dan untuk mengetahui karakteristik pemimpin ada beberapa gaya pemimpin yang dapat kita ketahui untuk menjadi tolok ukur pemimpin kita diantaranya adalah yang pertama adalah gaya kepemimpinan yang otokratis yaitu gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Yang kedua adalah gaya Kepemimpinan Demokratis, yaitu gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.yang ketiga adalah Tipe Kepemimpinan Laissez Faire atau kendali bebas Tipe kepemimpinan yang santai dan pengambilan keputusan diserahkan kepada para bawahannya dengan pengarahan yang minimal bahkan tanpa pengarahan sama sekali. Oleh karena itu, tipe kepemimpinan ini sering kali dianggap sebagai seorang pemimpin yang kurang memiliki rasa tanggung jawab yang wajar terhadap organisasi yang dipimpinnya. Serta memandang dan memperlakukan bawahannya sebagai orang-orang yang sudah matang dan dewasa, baik dalam teknis maupun mental. Dan yang terakhir adalah tipe kepemiminan yang Kepemimpinan partisipatif didefinisikan sebagai persamaan kekuatan dan sharing dalam pemecahan masalah dengan bawahan dengan melakukan konsultasi dengan bawahan sebelum membuat keputusan. Kepemimpinan partisipatif berhubungan dengan penggunaan berbagai prosedur keputusan yang memperbolehkan pengaruh orang lain mempengaruhi keputusan pemimpin.
Dari empat tipe gaya kepemimpinan, kepemimpinan yang ideal adalah seorang pemimpin yang memilkiki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hierarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak sebagai generalis.
2.      Kemampuan bertumbuh dan berkembang
3.      Sikap yang inklusif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
4.      Kemampuan analitik, efektivitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan adalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
5.   Daya ingat yang kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan intelektual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
6.      Kapasitas integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai organisasi.
7.      Keterampilan berkomunikasi secara efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain: fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
8.      Keterampilan mendidik
9.      Rasionalitas,
10.  Objektivitas,
11.  Pragmatisme,
12.  Kemampuan menentukan prioritas,
13.  Kemampuan membedakan hal yang urgen dan yang penting
14.  Naluri yang tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat
15.  Rasa Kohesi yang tinggi
16.  Rasa Releveasi
17.  Keteladanan,
18.  Menjadi yang pendengar yang baik
19.  Adaptabilitas,
20.  Fleksibilitas,
21.  Ketegasan
22.  Keberanian
23.  Orientasi masa depan
24.  Sikap yang antisipatif dan proaktif
 
C.          Analisis sistem pemerintahan dan gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono  
 
Dari beberapa teori tentang kewenangan dan kepemimpinan  diatas bahwa jelaslah aturan atau hakikat dari kewenangan dan hakikat dari seorang pemimpin. Dua periode atau delapan tahun  sudah Negara Indonesia di pimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), banyak konflik maupun prestasi yang di dapat  saat pemerintahan SBY, dari segala konflik dan presetasi yang didapat ini di pengaruh oleh gaya pemerintahan SBY dan sistem pemerintahan yang SBY lakukan. Dari emapt gaya kepemimpinan yang disebutkan di atas dapat kita katakan bahwa SBY adalah pemimpin dengan gaya tipe demokrtais yaitu pemimpin yang mengambil keputusan sesuai dengan musyawarah rakyatnya. Hal ini dapat kita lihat dari cara pengambilan keputusan SBY yang sangat lelet karena harus menunggu persetujuan bersama.
Pembawaan SBY karena dibesarkan dari lingkungan tentara dan SBY sendiri berlatar belakang tentara karier, tampak agak formal. Ibu-ibu tertarik kepada SBY karena santun dalam setiap penampilan dan apik pula dalam berbusana, dan penampilan semacam ini meningkatkan citra SBY di mata masyarakat. SBY adalah seorang militer intelektual. Tingkat intelektualitas SBY tampak lebih menonjol dibandingkan dengan JK yang lebih praktis serta pragmatis. SBY tajam dalam analisa, karena itu tidak usah aneh jika selalu nomor wahid di sekolah. Ketajaman dan kecermatan SBY dalam analisa, adakalanya dapat mengurangi tingkat determinasi dalam pengambilan keputusan . Sby cenderung kalem, sesuai dengan background kebudayaannya yang jawa, sehingga banyak orang justru mengatakan bahwa beliau ini “lelet”. Sosok kemiliteran yang kental secara tidak langsung juga membawa dampak pada kabinet yang dipimpinnya. Kemampuan beliau untuk melihat kedalam masalah tidak terlalu baik apabila dibawa ke level teknis, karena beliau merupakan sosok yang ahli dalam mensinergikan kekuatan-kekuatan yang berada dibawah kepemimpinan beliau .Gaya kepemimpinan SBY berdasarkan ciri-ciri dari kepemimpinan ideal yang sesuai dengan beliau diantaranya adalah, pengetahuan umum yang luas seperti yang telah dituliskan Mar’ie Muhammad bahwa SBY adalah seorang militer intelektual, kemudian kemampuan analitik yang tajam yang kadangkala mengurangi kecepatan dalam mengambil keputusan. Keterampilan berkomunikasi secara efektif juga dimiliki beliau dimana terlihat dampaknya pada kabinet yang dipimpinnya.
 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah penulis paparkan sebelumnya di BAB II maupun latar belakang maka dapat kita simpulkan bahwa sifat seorang pemimpin itu bermacam-macam, dilihat dari gaya kemimpinannya, gaya kepmimpinan yang dipararkan di BAB II pembahasan ada empat gaya kepemimpinan yaitu tipe otokratis, partisipatif, demokratis dan tipe  kendali bebas, dari empat tipe gaya kepemimpinan tersebut, masing masing memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri, seperti dalam tipe kepemimpinan otokratis terdapat nilai plus dan nilai minusnya, nilai plus yang terkandung dalam tipe kepemimpinan otokratis adalah dalam pengambian keputusan seorang pemimpin bisa bertindak cepat dalam mengambil keputusan sehingga masalah dapat dengan segera terselesaikan, dan nilai minus yang terkandung dalam tipe kepemimpinan otokratis adalah tumbuhnya sifat sewenang-wenang dan masyarakat tidak dapat menyalurkn aspirasinya sehigga masyarakat bersifat pasif. Plus minus dalam tipe pemeritahan demokratis adalah, dalam nilai plusnya tipe demokratis menguntungkan masyarakat dan dapat berperan aktif dalam aktifitas kenegaraan nilai minus yang terkandung dalam tipe kepemipminan demokratis adalah karena menunggu persetjuan bersama, maka pengambilan keputusan bersifat lelet dan cenderung bertele-tele. Begitu pula dalam tipe kepemimpinan kendali bebas maupun partisipatif memiliki nilai plus dan minusnya masing-masing. Dan dapat disimpulkan bahwa dari cara kepemimpinan SBY yang menganut gaya kepemimpinan demokratis ini maka tidak semuanya bersifat buruk, akan tetapi ada beberapa yang memliki nilai plus seperti bebasnya masyarakat dalam mengeluarkan pendapat dan ikut serta dalam pengambilan keputusan.
 
 
B.     Saran
Dari pembahasan makalah ini maka saran yang penulis  ajukan adalah bahwasanya kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT maka, manusia sebagai mahluk yang dianugerahi fikiran dan perasaan seharusnya dapat menyeimbangngkan hal tersebut. Dapat memilah dan memilih mana yang terbaik serta apakah hal tersebut tidak berdampak buruk bagi masyarakatynya, walaupun setiap pemimpin memiliki kekurangannya masing masing akan tetapi berusaha menjadi sempurna dan memilih yang sempurna tidaklah salah.
 
DAFTAR PUSTAKA
·         Allen louis a, management and organization, McGraw-Hill, 1958
·         Dr thomas gordhon ,A way of releasing creative power of groups, Tata McGraw-Hill,2002
·         Ganjong, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Bogor: Ghalia Indonesia, 2007,
·         james, teori kepemimpinan dalam sadeli, bumi aksara, 2006
·         koontz harold and Cyril donell, the principle of management, Tata McGraw-Hill, Mar 1, 2004
·         Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006),  hlm. 100
·         Terry Hoyt teori kepemimpinan,  Kartono, 2003

·         Philipus M. Hadjon, “tentang Wewenang”,  YURIDIKA, No.5&6 Tahun XII, September

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: